jiwaku bercerita cinta...

Akal akan berdiri seimbang dengan pengetahuan, jadi biarkanlah akal bukan nafsu menjadi pembimbingmu.

Karena otak mengendalikan raga, Hak mengendalikan jiwa, dan Akal mengendalikan keduanya.

Dan kamu akan menjadi orang bijaksana diantara sekat-sekat yang menghimpit.

“Untuk Para Guru”
Berikut beberapa sumber tentang kata GURU:
  • Menurut hikayat istilah guru dipungut dari nama “Syiwa Mahaguru”. Itu sebabnya, di masa lampau seseorang yang menjadi guru wajib suci dari “nafsu duniawi” karena ia menjadi representasi Syiwa dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Siswa-siswa yang menuntut ilmu dari guru, karenanya harus “didiksha” (disucikan) lebih dulu. Dari kata didiksha, lahirlah kata didik yang menjadi akar kata pendidikan. Jadi dari latar sejarah, istilah guru, siswa dan pendidikan memiliki makna ruhani. Nah, kalau makna ruhani itu dilanggar dan di injak-injak dalam rangka memenuhi nafsu rendah duniawi, maka jangan disalahkan jika ruh guru akan tercabut dengan sendirinya, dan tidak cukup itu, Syiwa selaku Sang Perusak akan menghancurkan siapa pun di antara guru-guru yang merusak kesucian-Nya.
  • Kata “guru” berasal dari bahasa Sanskerta yg artinya pembimbing rohani. Orang Jawa mengutak-atik-matuk kata ini menjadi “orang yg harus diguGU (didengar ucapannya) dan ditiRU”. Tapi belum semua guru memiliki kualitas guru yg layak ditiru. Masih banyak guru yg boleh di-GUyu (ditertawakan) dan ditinggal tuRU (tidur).
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia: Gu-ru n orang yg pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar;—kencing berdiri, murid kencing berlari, pb kelakuan murid (orang bawahan) selalu mencontoh guru (orang atasannya);

     Hanya sekedar mengingatkan akan suci-nya kata Guru, bukan hanya sekedar sebuah profesi atau mata pencaharian—seperti yang dangkal diartikan oleh KBBI—semata.

     Namun pada kenyataannya, banyak guru yang menganut aliran KBBIsme, yang menginterpretasikan kata guru hanya sebatas profesi dan mata pencaharian saja. Yang lebih ironi adalah kalimat “kelakuan murid (orang bawahan) selalu mencontoh guru (orang atasannya)”, tanpa lebih lanjut mempertimbangkan bahwa tidak semua guru itu atasan, dan tidak semua atasan itu guru. Bisa saya artikan bahwa saat ini tidak semua—baik itu atasan maupun guru—bisa ditiru dan dicontoh. 

     Saya pribadi sangat terkesan dengan kutipan pertama—yang entah dari mana itu—tulisan ini. Sebuah pengertian guru yang begitu mendalam (sebuah kajian tasawuf falsafi). Saat guru tidak terlena pada “nafsu duniawi”, maka itulah yang sebenar-benarnya seorang guru. Maka tidak heran jika dahulu ada pernyataan bahwa “jangan harap kaya raya dengan menjadi seorang guru”. Karena mungkin zaman dahulu, sedikit peluang—dan bahkan pemikiran—untuk mencari keuntungan dari menjadi guru. Tidak perlu saya sebutkan keuntungan seperti apa yang dapat diperoleh untukmemperkaya diri yang jauh sangat terbuka pada zaman sekarang ini. Bukan berarti menjadi seorang guru itu tidak boleh menjadi kaya raya, bukan. Melainkan menjadi apapun kita, perhatikanlah dari mana apa yang kita dapatkan. Baik-kah? Tidak baik-kah?.

     Tulisan ini ditulis, hanyalah sekedar ingin mengingatkan saja pada diri saya pribadi, dan kepada seluruh rekan Guru yang masih menghirup udara segar lagi gratis dari Tuhan ini. Kepada kita yang masih senantiasa menghadapi siswa-siswa kita yang masih sama-sama manusia. Mohon maaf jika ada yang tersinggung. Tersinggung berarti ada sesuatu yang harus dibicarakan dan diperbaiki—untuk itulah tulisan itu lahir, untuk dibicarakan, dikritik, diberi saran, dan dicari solusi terbaiknya, jika memang belum tercapai kedamaian jiwa di dalamnya—lebih lanjut. Pun mohon maaf saya haturkan kepada KBBI, yang telah saya sebut “secara dangkal mengartikan kata GURU”. Karena memang begitulah keadaan sebenarnya, begitu dangkal.

     Saya bukan orang yang sepenuhnya benar, karena saya bukan Nabi, saya bukan Rasul, saya bukan Malaikat. Saya manusia yang hina, yang tidak pernah tahu tujuan akhir saya. Surga-kah? Neraka-kah?. Saya hanya ingin berbuat baik saja, dan semoga ini termasuk ke dalam salah satunya perbuatan baik itu. Saya tidak ingin dipuji, karena saya Rully, bukan Fuji (urang Sunda bilang: Puji). Besar harapan saya untuk kita semua bisa kembali pada hakikatnya kita di Dunia ini, yaitu sebagai petani untuk menanam kebaikan dan memanennya, untuk kemudian menjadi bekal kita pada kehidupan kelak, kehidupan akhirat (bagi orang-orang yang ber-iman).

Cimahi Selatan, di dalam kamar, di depan laptop, duduk bersila seraya berkontemplasi, dengan Sting bernyanyi diiringi band-nya pada Winamp, di hari ke-4, di bulan Desember, tahun ke 2011 Masehi.  

(Rully Setia Ramdani a.k.a. Abah Blues)

Buat apa saya bermain musik??

Bagi saya, bermain musik itu bukan untuk terkenal dan banyak uang.

Bagi saya, bermain musik itu untuk mencari siapa diri saya.

Lalu buat apa manggung?? 

Manggung itu untuk difoto, dan fotonya untuk mengganti profile picture di facebook & avatar di twitter, cuma itu tujuan saya. Kalaupun kemudian orang mengenal saya karena saya bermain musik di panggung/gigs, bukan salah saya dong?.

Lalu buat apa dibayar setelah manggung??

Manggung itu untuk difoto, dan fotonya untuk mengganti profile picture di facebook & avatar di twitter, cuma itu tujuan saya. Kalaupun kemudian orang membayar saya karena saya bermain musik di panggung/gigs, bukan salah saya dong?.

Pernikahanmu

Siang ini, 16 Oktober 2011, saat kamu menikah dengannya.

Sendiri aku dengan kegagahan pada diriku, memasuki gedung perhelatan pesta pernikahanmu. Terpampang di kiri dan kananku fotomu bersamanya, yang orang bilang itu foto pre-wedding (foto-foto yang diambil sebelum menikah). Wajah itu, wajah yang pernah begitu dekat dengan wajahku. Yang di wajahnya ada matanya, mata yang pernah begitu tajam kulihat. Yang di wajahnya ada rambutnya, rambut yang pernah sesekali kuusap lembut. Yang di wajahnya ada bibirnya, bibir yang pernah berkata-kata indah padaku. Yang di dalam dadanya ada hatinya, hati yang pernah begitu dekat dengan hatiku.

Di foto itu, kamu bersanding mesra dengan dirinya, lelaki itu, lelaki yang pagi tadi memintamu untuk jadi istrinya, yang sekarang ada di sampingmu, untuk mendampingimu bersalaman pada rautsan tamu yang datang, datang untuk sekedar mengucap selamat dan pada intinya makan siang gratis. Yang pada nantinya mendampingi dirimu seumur hidupmu dan hidupnya.

Melewati beberapa lampu dan perlengkapan fotografi yang akan mengambil gambarmu dengan suamimu, orangtuamu, mertuamu, dan para tamu yang ingin secara narsis ikut ada pada foto, yang nantinya ada pada album foto yang disimpan di ruang tamu rumahmu. Foto-foto yang sudah bukan foto pre-wedding lagi.

Seraya aku melangkahkan kaki pada tiga anak tangga, menuju kakak lelaki pertama dan Ibu kandungmu, bersalaman pada mereka, dan menunggu tamu lain maju bergeser hingga aku ada di hadapanmu. Yang terjadi adalah:

Kamu : “abaaaah, datang jugaaaa!!”

Aku : “Iya dooong…”

  “Akhirnya ya?!, selamat ya…!!”

Kamu : “Iya, makasih…”

(tidak perlu ku kisahkan bagaimana aku bercakap pada suamimu setelah aku bercakap ucap selamat padamu, biar pembaca berimajinasi, aku beradu mulut dengannya, atau aku seolah-olah berkata, “dulu dia orang yang aku berdarah-darah memperjuangkan hatinya, sekarang engkaulah yang Allah pilih untuk bertanggung jawab atasnya, dunia-akhirat”, padahal sediktipun aku tidak berkata itu)

Yang terjadi kemudian adalah, sama halnya tamu lainnya yang pada otaknya terdapat pikiran “Makan siang gratis niih”. Ya, aku makan seraya menemui teman, yang dulu jadi perantara, antara aku dan kamu (se-kerennya pun tetap disebut Mak Comblang, bukan Tante Comblang). Hanya bercakap biasa saja, sewajarnya, menanyakan kabar dan kondisi saat ini.

Bagiku pernikahanmu adalah sebenar-benarnya keikhlasan yang sedang diuji. Yang kurasakan adalah ikhlas dengan sedikit godaan efek masa lalu, yang bagaimanapun juga aku pernah berdarah-darah meluluhkanmu hingga akhirnya kamu memang tidak pernah luluh.

Niat aku datang di pernikahanmu, adalah semata-mata bahwa bagaimanapun juga kamu adalah bagian dari proses kehidupanku. Dan kamu ada dalam satu bab di buku sejarah hidupku, yang tidak pernah diterbitkan oleh percetakan manapun. 

Terakhir hanya berucap di bibir dan do’a pada hati “Semoga senantiasa berbahagia, dunia-akhirat”, sebagaimana do’a rutinku untukmu dulu “Semoga kamu selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidup kamu”. Dan inilah yang terbaik yang Allah berikan padamu. InsyaAllah…

Loepa padamoe

Hampir loepa pada bagaimana rasanja menoelis pada saia poenja toemblr, soenggoeh sangat lawas kawan, lama tiada bersoea dan menoeliskan setjertjah harapan pada saia poenja toemblr ini. Memang sangat disaiangkan, saia soedah lama tidak memiliki inspirasi, sedjatinja waktoe doeloe kala… Sekarang saia menikmati kehidoepan saia sendiri, berjoeang meraih mimpi, baroe nanti saia tjari kamoe lagi, siapapoen itoe…

ulang tahun ke-6, satu kali dalam seumur hidup tiup lilin merah berbentuk angka enam…

ulang tahun ke-6, satu kali dalam seumur hidup tiup lilin merah berbentuk angka enam…

Me & My Sista’

Me & My Sista’

hari pertama belajar mengaji (kelas 1 SD)…bersama teteh dan kedua sepupu, oleh Ustadz. Arifin

hari pertama belajar mengaji (kelas 1 SD)…bersama teteh dan kedua sepupu, oleh Ustadz. Arifin

sampul depan, buku catatan kuliahku…

sampul depan, buku catatan kuliahku…

Hari pertama sekolah di Sekolah Dasar, dengan seragam dan tas baru…

Hari pertama sekolah di Sekolah Dasar, dengan seragam dan tas baru…

Berfoto bersama keluarga; Abah, Ambu, Teteh, dan Saya sendiri (saat itu berusia kurang lebih 5 tahun)

Berfoto bersama keluarga; Abah, Ambu, Teteh, dan Saya sendiri (saat itu berusia kurang lebih 5 tahun)

Saat hendak bersekolah pagi di Taman Kanak-kanak (Ambuku di belakang, menunggu anaknya selesai berfoto)

Saat hendak bersekolah pagi di Taman Kanak-kanak (Ambuku di belakang, menunggu anaknya selesai berfoto)

“Ksesalahan lain dari para musisi adalah bahwa meraka berpendapat: hanya fenomena bunyi sendiri yang penting. Memang, dengan suatu logika tersendiri seorang musisi yang kurang waspada dan kurang teliti bisa menegaskan: ‘musik hanya terdiri dari bunyi-bunyi atau nada-nada’, sesuai dengan suatu keterangan yang pernah dikemukakan oleh Stephane Mallarme kepada Edgar Degas, yaitu ‘sastra terdiri dari kata…’. Saya tidak setuju dengan penegasan itu! Musik tidak terdiri dari bunyi saja…, musik juga terdiri dari intensitas-intensitas dan kepadatan-kepadatan (inilah keteraturan dinamisnya). Musik terdiri dari timbre-timbre dan berbagai cara permainannya (inilah keteraturan fonetisnya), musik terdiri dari aksen-aksen, dari arsis-tesis serta dari berbagai tempo (inilah keteraturan kinetisnya) dan akhirnya, musik terutama terdiri dari waktu, dari pembagian-pembagian waktu, dari angka-angka dan durasi-durasi (inilah keteraturan kuantitatifnya). Jangan kita lupakan bahwa elemen yang terpenting dalam bidang musik adalah ritme. Ritme harus diartikan sebagai pergantian (proses timbal balik) antara angka dan durasi. Mari kita bayangkan satu pukulan di alam semesta kita: satu pukulan – keabadian sebelumnya – keabadian setelahnya. Masa lalu – masa depan, dan inilah kelahiran fenomena waktu. Kemudian kita bayangkan satu pukulan kedua yang langsung mengikuti pukulan pertama. Karena setiap pukulan dapat diperpanjang dengan fase diam yang mengikutinya, maka pukulan kedua dirasakan lebih panjang daripada yang pertama. Artinya: angka yang lain (pukulan satu dan pukulan dua) serta durasi yang lain, yaitu kelahiran fenomena ritme! (…) Inilah ‘credo ritme’ saya. Tetapi semua itu masih hanya merupakan masalah teknik saja. Inspirasi atau imajinasi berlum dapat menguasai kenyataan teknis itu. Kita masih jauh dari suatu karya musik yang selesai…. Namun jangan dilupakan bahwa inspirasi tidak merupakan salah satu buah dari keinginan manusia. (…). Di situ telah muncul suara-suara dari alam yang abadi. Sama dengan Bartok yang lama sekali berkeliling di Hongaria untuk mengumpulkan lagu-lagu rakyatnya, saya sendiri berkeliling propinsi-propinsi Prancis untuk menotasikan kicau burung-burung. (…) Teknis ritmis serta inspirasi yang ditemukan kembali oleh karena pengalaman dengan burung-burung: inilah cerita kehidupan saya. Oliver Messiaen pada suatu ceramah di pameran-dunia di Bruxells, tahun 1958. Dikutip dari buku “Oliver Messiaen”, Musikkonzepte jilid 28, Munchen, 1982, halaman 3, 5, dan 6.

Glen Hansar - Say It to Me Now