Siang ini, 16 Oktober 2011, saat kamu menikah dengannya.
Sendiri aku dengan kegagahan pada diriku, memasuki gedung perhelatan pesta pernikahanmu. Terpampang di kiri dan kananku fotomu bersamanya, yang orang bilang itu foto pre-wedding (foto-foto yang diambil sebelum menikah). Wajah itu, wajah yang pernah begitu dekat dengan wajahku. Yang di wajahnya ada matanya, mata yang pernah begitu tajam kulihat. Yang di wajahnya ada rambutnya, rambut yang pernah sesekali kuusap lembut. Yang di wajahnya ada bibirnya, bibir yang pernah berkata-kata indah padaku. Yang di dalam dadanya ada hatinya, hati yang pernah begitu dekat dengan hatiku.
Di foto itu, kamu bersanding mesra dengan dirinya, lelaki itu, lelaki yang pagi tadi memintamu untuk jadi istrinya, yang sekarang ada di sampingmu, untuk mendampingimu bersalaman pada rautsan tamu yang datang, datang untuk sekedar mengucap selamat dan pada intinya makan siang gratis. Yang pada nantinya mendampingi dirimu seumur hidupmu dan hidupnya.
Melewati beberapa lampu dan perlengkapan fotografi yang akan mengambil gambarmu dengan suamimu, orangtuamu, mertuamu, dan para tamu yang ingin secara narsis ikut ada pada foto, yang nantinya ada pada album foto yang disimpan di ruang tamu rumahmu. Foto-foto yang sudah bukan foto pre-wedding lagi.
Seraya aku melangkahkan kaki pada tiga anak tangga, menuju kakak lelaki pertama dan Ibu kandungmu, bersalaman pada mereka, dan menunggu tamu lain maju bergeser hingga aku ada di hadapanmu. Yang terjadi adalah:
Kamu : “abaaaah, datang jugaaaa!!”
Aku : “Iya dooong…”
“Akhirnya ya?!, selamat ya…!!”
Kamu : “Iya, makasih…”
(tidak perlu ku kisahkan bagaimana aku bercakap pada suamimu setelah aku bercakap ucap selamat padamu, biar pembaca berimajinasi, aku beradu mulut dengannya, atau aku seolah-olah berkata, “dulu dia orang yang aku berdarah-darah memperjuangkan hatinya, sekarang engkaulah yang Allah pilih untuk bertanggung jawab atasnya, dunia-akhirat”, padahal sediktipun aku tidak berkata itu)
Yang terjadi kemudian adalah, sama halnya tamu lainnya yang pada otaknya terdapat pikiran “Makan siang gratis niih”. Ya, aku makan seraya menemui teman, yang dulu jadi perantara, antara aku dan kamu (se-kerennya pun tetap disebut Mak Comblang, bukan Tante Comblang). Hanya bercakap biasa saja, sewajarnya, menanyakan kabar dan kondisi saat ini.
Bagiku pernikahanmu adalah sebenar-benarnya keikhlasan yang sedang diuji. Yang kurasakan adalah ikhlas dengan sedikit godaan efek masa lalu, yang bagaimanapun juga aku pernah berdarah-darah meluluhkanmu hingga akhirnya kamu memang tidak pernah luluh.
Niat aku datang di pernikahanmu, adalah semata-mata bahwa bagaimanapun juga kamu adalah bagian dari proses kehidupanku. Dan kamu ada dalam satu bab di buku sejarah hidupku, yang tidak pernah diterbitkan oleh percetakan manapun.
Terakhir hanya berucap di bibir dan do’a pada hati “Semoga senantiasa berbahagia, dunia-akhirat”, sebagaimana do’a rutinku untukmu dulu “Semoga kamu selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidup kamu”. Dan inilah yang terbaik yang Allah berikan padamu. InsyaAllah…